Kamis, 21 Juni 2012
Konstitusi dan Peluang Negara Kesejahteraan (Daniel Adipranata)
Travel to Toraja (Daniel Adipranata - Februari 2012)
TONGKONAN
Pendidikan
Warga ke-27
Toraja,
24-25 Februari 2012
|
Tongkonan
adalah rumah adat Toraja. Namun bagi masyarakat Toraja, Tongkonan bukan
sekedar rumah tinggal biasa. Tongkonan berasal dari kata
‘tongkon’ (bahasa Toraja) yang berarti ‘duduk
bersama-sama’. Tongkonan adalah pusat persekutuan hidup atau pranata
sosial budaya masyarakat Toraja. Sesuai dengan artinya Tongkonan berfungsi
untuk tempat untuk memecahkan permasalahan bersama, dan menata
Karapasan (kedamaian, kebahagian) yang mengutamakan ketentraman,
keaamanan. Hidup bersumber dari dan untuk Tongkonan bagi keluarga.
Pengelolaan sumber ekonomi (air, pohon, padi, sayur tanah) diolah bersama
untuk kepentingan bersama. Agama dan kehidupan sosial dipelihara dan
dipraktekkan dalam Tongkonan.
|
Pada
tanggal 24-25 Februari 2012, tim dari Institut Leimena (Matius Ho, Daniel
Adipranata, dan Santhy Chamdra) mengadakan Pendidikan Warga dan Pelatihan
Fasilitator Diskusi Warga di Gereja Toraja. Bertempat di Tamengtoe (pusat
pelatihan sinode Gereja Toraja), acara selama 2 hari ini diikuti oleh sekitar
50 orang peserta, terdiri dari Pendeta, anggota DPRD, pengurus Partai
Politik, dan para aktifis Pemuda Gereja Toraja. Acara dibuka dan diawali
dengan kuliah pembuka oleh ketua Sinode GerejaToraja, Pdt. Musa Salusu, M.Th.
tentang Peranan Warga Gereja dalam Pembangunan Bangsa. Diakhir acara, peserta
menyaksikan penandatanganan nota kerjasama antara Institut Leimena dengan
Sinode Gereja Toraja.
|
Sebagai daerah mayoritas Kristen, Tana
Toraja mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk menunjukkan keteladanan
dalam tata kelola pemerintahan yang bersih dan memajukan masyarakat. Ini
tercermin melalui diskusi, banyak peserta yang mengangkat pentingnya gereja
tidak membuang peluang dengan terus menyuarakan suara kenabian di dunia
politik. Gereja juga harus terlibat dalam mencetak kader muda dan
mencerdaskan warganya melalui diskusi warga. Beberapa komitmen dari peserta
tentang acara ini adalah sebagai berikut:
|
“… menggalang dan
mengupayakan penyadaran warga tentang hak-haknya. Dengan mendorong
pembentukan kelompok-kelompok Diskusi Warga. ….. membentuk juga
komunitas advokasi eksekutif dan legislative“ ( Pdt Luther Taruk , MTh. Ketua wilayah
II, Gereja Toraja)
|
“ manfaat Pendidikan Warga adalah
untuk memberdayakan warga (konstituen) untuk bisa menyampaikan aspirasinya
dengan serta mengerti haknya sebagai warganegara” (Isak Bunga Allo, anggota DPRD
Toraja Utara)
|
Mapalus (Daniel Adipranata, Maret 2012)
MAPALUS
28th
Citizenship Education
Tomohon,
28th – 29th February 2012
|
Mapalus
is a form of
cooperation for mutual benefit in Minahasa tribal culture. Mapalus is a
social capital that is based on the local wisdom of the Minahasa community.
Mapalus is a traditional form of mutual assistance which has a fundamental
difference with other modern forms such as clubs or business associations.
|
The
main purpose of Mapalus is to urge mankind and the community to promote the
welfare of the individuals and groups within the community with full
awareness and responsibility. Mapalus is the basic essence of life and
activities of the Minahasa people who have a calling based on the fundamental
sincerity of having a good conscience.
|
Mapalus
as a working system has values such as reciprocity, participation,
solidarity, responsibility, mutual cooperation, discipline, transparency,
equality and mutual trust.
|
Mapalus
forms the family, religion, unity and integrity. Form of Mapalus includes:
Mapalus farmers, Mapalus fishermen, Mapalus money, Mapalus grief and martial
assistance and Mapalus community groups.
|
At
bumi Minahasa, on the 28th-29th February 2012, the team
from Institut Leimena (Matius Ho, Daniel Adipranata and Santhy Chamdra) held
the 28th Citizenship Education along with the Synod of the
Evangelical Christian Church of Minahasa (GMIM). The event was held at the
GMIM church “Immanuel”, Tomohon, North Sulawesi. The session
lasted 2 days and was attended by about 50 people from Tomohon, consisting of
the church minister, a few leaders of GMIM and GMIM youth activists.
|
The
citizenship Education program was official opened by the vice chairman of the
BPMS Cooperation Relations GMIM Synod, Rev. Roy Tamaweol. In his opening
address, Rev. Roy stressed the importance of church members in taking an
active role and being involved constructively in the building of the nation.
The unique part of this citizenship education program was that the whole
event was held in the context of worship. The event began with worship
service and on the next day, at the end of the Citizenship Education, the
service was closed. Rev. Decky Lolowang, Chairman of the Church Synod of Am
(SAG) Suluttenggo, was given the opportunity to close this 28th
Citizenship Education Program officially.
|
A
few comments from the attendees:
|
“built a stronger sense of nationalism; Brought to
light the roles and responsibility as a citizen, that cannot be separated
from ministry and witness service” (Rev. Sophia Rau, Jemaat Syalom, Tomohon)
|
“Critiqued every
product of the laws and government regulations especially for the provincial
districts, and built room for citizenship discussion in the place where we
serve” (Rev. Petra D.E.F. Rau, GMIM Tomohon)
|
Memimpin Kelompok Diskusi Warga - Daniel Adipranata
Edisi
003/2012
|
Memimpin
Kelompok Diskusi Warga
|
Sikap dan ketrampilan saudara sebagai pemimpin adalah salah satu faktor penting dalam
menentukan semangat dan suasana pertemuan.
Sikap yang rileks namun penuh antusiasme, akan menyebar kepada setiap anggota
kelompok sejak awal Diskusi Warga (DW) dimulai. Jadikan DW sebagai diskusi
milik bersama dan bangun suasana menyenangkan
|
Persiapan
1. Sedapat mungkin aturlah susunan
duduk yang melingkar sehingga setiap orang dapat saling memandang dan
mudah berbicara satu dengan yang lain.
2.
Bagikan bahan DW kepada setiap peserta
3.
Sejak awal, jelaskan bahwa pertemuan itu
adalah untuk berdiskusi bukan ceramah atau debat kusir.
Kemudian sampaikan aturan-aturan dasar DW:
a.
Tujuan dan batasan materi
yang akan dipelajari.
b.
Pentingnya
menghargai pendapat dan peran setiap orang dalam diskusi.
c.
Kesepakan
bersama
tentang lamanya diskusi dan siapa notulis DW.
4. Mulailah tepat waktu. Disamping membuang waktu, kebiasaan terlambat menimbulkan dampak
psikologis yang buruk, seperti DW itu hanya main-main dan tidak penting.
|
Memulai
Diskusi Warga
1.
Bukalah DW dengan doa; kemudian perkenalkan diri anda dan minta peserta berkenalan secara singkat. Catatlah nama-nama peserta.
2.
Dalam mengarahkan pertanyaan, sebutkan nama
orang itu. Hal ini juga akan membantu yang lain mengingat nama
rekan diskusi.
3. Jika anggota kelompok masih
belum mengerti apa yang dimaksudkan oleh pembuat bahan DW, anda dapat mengkalimatkan
ulang dengan kata-kata sendiri.
4. Kendalikan waktu.
Setelah suatu pertanyaan terjawab dengan memuaskan, segeralah beralih ke
pertanyaan berikutnya (jangan bertele-tele atau terjebak debat kusir).
Pengulangan akan menimbulkan kebosanan.
5. Secara berkala buatlah
kesimpulan
tentang apa yang telah kelompok capai dari bahan yang dipelajari. Ini akan
menolong untuk memperoleh ide-ide berarti selanjutnya dan untuk menjaga alur
pertanyaan. Tapi jangan berkhotbah.
6. Pada akhir DW, berilah
kesimpulan pendek (bisa
dikaitkan kembali dengan tujuan topik) dan tutup dengan doa.
Beri kesempatan kepada peserta untuk meresponi dan memohon agar Tuhan
menolong untuk melakukan kesepakatan.
7. Akhiri tepat pada waktunya. Yang masih ingin melanjutkan
diskusi secara informal boleh tinggal namun yang lain boleh pulang.
|
Tips Praktis
1. Hindari untuk menjawab pertanyaan saudara sendiri.
Suatu kelompok akan menjadi pasif jika pemimpin terlalu banyak berbicara.
Tugas pemimpin adalah memimpin diskusi dengan memberi kesempatan kepada
orang untuk berpendapat.
2. Jangan kuatir dengan keheningan.
Peserta perlu waktu untuk berpikir
tentang pertanyaan dan menyusun jawaban mereka. Tetapi cobalah untuk
membedakan antara diam karena sedang berpikir dengan diam karena pertanyaan
tidak jelas.
3. Eksplorasi topik dan jangan
puas dengan satu jawaban. Minta juga jawaban peserta yang lain.
Tanyalah “Apakah ada jawaban lain?” atau “Apakah ada yang
mau menambahkan?”.
Beri kesempatan
kepada beberapa orang untuk berbicara.
4. Berilah dukungan yang
positif! Orang akan memberikan kontribusi jika merasa jawabannya
dihargai. Berikan perhatian penuh kepada siapapun yang sedang berbicara.
Responi jawaban mereka dengan mengatakan “Suatu pengamatan yang baik” atau “point
yang sangat bagus”. Berilah penghargaan kepada orang yang pemalu atau anggota yang ragu atau takut jawabannya salah.
5. Terimalah semua jawaban. Jangan sekali-kali menolak
jawaban. Jika jawaban itu jelas salah, tanyakan, ”Alasan apa yang
membuat Saudara berpikir demikian?” atau “Bagaimana pendapat yang
lain?”
6. Jangan takut pada perdebatan.
Hal ini menghangatkan diskusi, namun demikian perlu diperhatikan kemungkinan
adanya debat kusir atau timbulnya perkataan yang dapat menyakiti orang lain.
Ingatkan kembali akan peraturan dasar DW.
Daniel Adipranata
Center for Policy Analysis
Institut Leimena
|
Diskusi Warga
Edisi
001/2012
|
Diskusi
Warga: Langkah Kecil untuk Perubahan Besar
|
Mungkinkah sekelompok warga
yang hanya rakyat biasa membawa perubahan besar dalam keberlangsungan suatu
negara? Suatu bentuk pertemuan kelompok kecil yang disebut Diskusi
Warga ditawarkan sebagai salah satu bentuk partisipasi warga untuk membawa
perubahan di Indonesia.
|
Oleh : Budi H. Setiamarga, Ph.D.
|
Apa itu Diskusi Warga
|
Perubahan
besar dapat dimulai oleh sekelompok kecil orang yang tekun mempelajari dan
menyikapi masalah bersama yang mereka hadapi. Besarnya masalah yang
dihadapi bangsa ini seringkali memaksa kita memikirkan solusi besar, sehingga
kita merasa tidak berdaya. Sebetulnya banyak perubahan besar yang dapat
terjadi apabila kita mulai dengan langkah-langkah sederhana. Diskusi Warga
adalah sebuah bentuk pertemuan antar warga yang dilakukan di dalam
kelompok-kelompok kecil untuk bersama-sama belajar menjadi warganegara
bertanggungjawab. Melalui Diskusi Warga, sense of community
dapat terbangun sehingga warga akan menjadi lebih cerdas, terdidik dan kritis
dalam menanggapi permasalahan yang ada. Warga terbiasa untuk memahami dengan
jelas (tidak hanya sekedar ikut-ikutan saja) dan terlibat dalam permasalahan
sosial sekitarnya.
|
Mengapa Diskusi Warga diperlukan
|
Banyak
orang berpikir bahwa seseorang bisa membawa suatu perubahan besar hanya jika
seseorang berada dalam jabatan-jabatan kunci, misalnya di pemerintahan.
Oleh sebab itu, orang berusaha untuk meraih jabatan-jabatan tersebut bila
ingin membawa perubahan. Dilain pihak, bagi mayoritas warganegara, ada
rasa apatis dan tidak berdaya karena mereka merasa hanya wong cilik saja
yang jauh dari kekuasaan. Jadi paradigmanya adalah bahwa perubahan
hanya bisa terjadi secara top-down atau dari atas ke bawah.
Apakah ini selalu benar?
|
Setelah
amandemen UUD 1945, Negara Indonesia telah berubah dari negara totaliter
menjadi negara demokratis. Perubahan itu terlihat nyata dari pasal 1
ayat 2 UUD 1945 yang sebelum amandemen berbunyi “Kedaulatan adalah
di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat”.
Setelah amandemen, pasal 1 ayat 2 UUD 1945 menjadi “Kedaulatan
berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.”
Dulu, pada waktu rakyat memberikan suaranya pada pemilu, rakyat dianggap
sudah menyerahkan kedaulatannya ke tangan MPR dan selanjutnya MPR-lah yang
mengatur semuanya. Sekarang, situasinya berbeda. Kedaulatan rakyat
harus dilaksanakan sesuai dengan UUD. Dengan demikian, dalam Pemilu,
setelah rakyat menyatakan pilihannya, mereka yang sudah terpilih harus
melaksanakan mandat yang telah diberikan kepada mereka dalam koridor
UUD 1945. Inilah yang disebut sebagai demokrasi konstitusional.
|
Seorang
yang dipilih rakyat tidak boleh mengambil keputusan semaunya sendiri, tetapi
dia harus berusaha menyelaraskan segala keputusan yang dibuatnya dengan
UUD. Oleh sebab itu, peran warga sebagai rakyat yang berdaulat menjadi
sangatlah penting untuk ikut serta mengawasi apakah mandat yang telah
diberikan tersebut digunakan sesuai dengan UUD. Supaya warga dapat ikut
serta mengawasi, maka warga harus diberdayakan dengan pemahaman-pemahaman,
baik tentang suatu hal tertentu maupun tentang UUD 1945. Diskusi
Warga adalah sarana warga untuk belajar hak dan kewajibannya sebagai
Warga-negara yang bertanggung jawab. Melalui Diskusi Warga,
diharapkan makin banyak warga negara yang bersedia untuk ikut serta
memikirkan keberlangsungan NKRI. Dengan demikian, warga sebagai rakyat
yang memegang kedaulatan tidaklah pasif. Partisipasi warga nantinya
dapat juga diwujudkan dalam bentuk advokasi kebijakan publik, baik dalam
lingkup lokal maupun dalam lingkup yang lebih luas. Melalui Diskusi
Warga ini, tidaklah mustahil akan timbul calon-calon pemimpin-pemimpin
yang bertanggungjawab dengan bekal pemahaman dan pengetahuan yang baik, dapat
berpikir secara independen dan siap memimpin dalam keluarga, gereja,
masyarakat dan negara.
|
Bagaimana Memulai Diskusi Warga
|
Mulailah dengan
membentuk suatu kelompok kecil dengan mengajak 10-15 orang teman atau saudara
untuk berkumpul di suatu tempat, misalnya rumah anda, pada suatu waktu
tertentu, misalnya Jumat sore jam 19.00, untuk kurun waktu 1 sampai 2 jam.
|
Pilihlah satu
bahan diskusi dari situs Institut Leimena (www.leimena.org)! Bahan yang terdiri
dari bahan bacaan dan beberapa pertanyaan tersebut dapat di fotokopi terlebih
dahulu sesuai keperluan.
|
Diskusi Warga
dapat dimulai dengan ramah tamah dan perkenalan antar peserta dalam suasana
yang santai yang dilanjutkan dengan acara diskusi. Hasil diskusi yang
berupa pokok-pokok pikiran dapat dicatat dan diulang kembali diakhir diskusi
sebagai kesimpulan. Untuk meningkatkan efektivitas diskusi, setiap peserta
diskusi dapat didorong untuk menceritakan hasil pertemuan ini melalui
berbagai sarana misalnya email, sms, facebook dan percakapan, ke teman,
keluarga, atau tetangga mereka, supaya lebih banyak orang lagi yang mendapat
manfaat dari Diskusi Warga ini.
|
Budi H. Setiamarga, Ph.D.
adalah Direktur dari Center for Policy Analysis (CePA) di Institut Leimena
|
Selasa, 26 Mei 2009
Manusia dan Kematian menurut Heidegger
Disusun oleh Daniel Adipranata
Pandangan Heidegger tentang kematian adalah menarik. Pandangannya mengkaitkan antara kematian dan kehidupan. Kematian adalah hal penting untuk kehidupan, dan merenungkan kematian tak lain daripada merenungkan kehidupan itu sendiri Manusia adalah ada-menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Artinya, karena menyongsong sejak awal sampai akhir, kematian juga merentang dalam keseharian kita.
Menurut Heidegger, satu-satunya Being atau ‘Ada’ adalah manusia. Dengan mempertanyakan kembali ‘Ada’ kita dalam kehidupan, maka kita tidak sekedar menjalankan hidup. Tidak seperti ‘Ada’ dari orangutan atau mobil yang tergeletak di garasi, yang tidak pernah mempertanyakan ‘ada’-nya. Orangutan ada begitu saja dan mungkin tidak pernah mengambil jarak terhadap ‘Ada’-nya, maka dia tidak pernah menanyakan ‘Ada’-nya. Yang bisa melakukan itu adalah Dasein.
Dasein adalah kata Jerman yang berarti ‘Ada-di-sana’. Ada di mana? ‘Di-sana’ !. di dalam dunia begitu saja, tanpa tahu dari mana dan mau ke mana. Itulah yang disebut faktisitas (Faktizität), yaitu kenyataan bahwa kita ada di dunia ini bersifat niscaya. Kita tak pernah ditanya lebih dahulu mau atau tidak hidup di dunia ini. Kita ‘ada-begitu-saja’, kita ‘di-sana’, di dalam dunia. Heidegger menyebut ini sebagai ‘keterlemparan’ (Geworfenheit). Dasein terlempar ke dunia ini.
Kita ‘ada-begitu-saja’, terlempar. Yang membedakan Dasein dari mengada-mengada lain, adalah bahwa Dasein menyadari keterlemparan ini, lalu berupaya memahaminya. Keterlemparan ini, juga terjadi ketika menghadapi kematian. Ketika, kita tak pernah ‘menjadwalkan’ kapan kita lahir, maka kitapun tak pernah mengetahui kapan kita mati. Namun kebermaknaan hidup justru diperoleh di situ. Dalam ketidakpastian masa depan. Dengan ketidakpastian orang masih memiliki harapan. Harapan berarti terbukanya kemungkinan. Adanya kemungkinan membuat orang termotivasi untuk hidup. Di situlah orang dapat menatap ke depan dan terus memperbaiki diri sepanjang hidupnya. Kita terus meng-‘ada’ sepanjang kita hidup. Dasein memiliki peluang untuk terus memaknakan perjalanan kehidupan menuju kematian yang tidak dapat dipastikan kedatangannya.
Kematian adalah hal penting untuk kehidupan, dan merenungkan kematian tak lain daripada merenungkan kehidupan itu sendiri. Kematian adalah hal arkais dalam diri manusia, suatu fundamen dan totalitas terhadap ‘Ada’-nya di dunia ini, yang mencakup rentang sejak keterlemparan sampai kematiannya. Dasein menemukan otentisitasnya jika membuka diri terhadap ‘Ada’-nya dengan menghadapi kemungkinan kematiannya secara mendalam. Dasein menjadi inotentik ketika membiarkan dirinya larut dalam arus keseharian.
‘Ada’ manusia adalah suatu palung tanpa dasar, suatu Nicht (ketiadaan). Maksudnya, ‘Ada’ manusia secara dasariah adalah ‘ketiadaan-diri-sendiri’ (eine Nichtigkeit seiner Selbst). Keterlemparan dasein itulah yang menunjukkan bahwa ‘Ada’ Dasein adalah suatu ketiadaan, karena Dasein tak berasal dari suatu yang diketahui dan menuju ke tujuan yang tak satupun ditetapkan sebelumnya.
Tetapi, ketidaktahuan atau ketiadaan kepastian itulah yang menentukan ‘Ada’-nya, maka lompatan ke dalam hal tersebut menimbulkan kecemasan. Suatu kecemasan yang dapat menjadi mediasi untuk kontak dengan ‘Ada’ yang menjadi sumber nilai-nilai, karena dalam kecemasan itu Dasein bergerak melalui lorong pemahaman akan pencapaian kemungkinan-kemungkinan.
Dasein mencapai totalitas ‘Ada’-nya dalam kematian (Tod). Kematian adalah zenit totalitas ‘Ada’ dasein, tetapi persis pada titik itu pula Dasein kehilangan ‘Ada’-nya—suatu nadir ontologis, karena Dasein berhenti sebagai Ada-di-dalam-dunia. Namun ada suatu ruang terhormat bagi dasein yang terhenti itu. Manusia yang mati ‘lebih’ daripada seonggok daging, dan menjadi almarhum yang bermartabat. Kontak dengan ‘Ada’nya tidak berhenti. Bukan keabadian jiwa dalam pemahaman agama yang diacu di sini, melainkan pengalaman akan dunia-bersama yang masih membekas pada mereka yang ditinggalkan. Hubungan dengan yang mati seolah masih ‘bermukim’ di dalam dunia-bersama itu, sehingga yang mati ‘lebih’ daripada sekedar jenasah. Ciri ‘lebih’ itu, katakanlah semacam sedimentasi memori hasil kebiasaan kontak makna dengannya selama ini.
Tak seorang pun dapat menjemput kematian untuk orang lain. Meski orang bisa mati demi ideologi tertentu seperti teroris yang melakukan bom bunuh diri sekte yang percaya bahwa di satu waktu dan tempat tertentu mereka akan bersama-sama naik ke surga; tetapi kematian adalah tetap kematian bagi dirinya sendiri, bukan mewakili kematian orang lain. Maka itu, kematian adalah momen paling otentik dan eksistensial bagi dasein.
Akhir yang dimaksud dengan kematian, bukanlah berakhirnya dasein, melainkan suatu Ada-menuju-akhir. Dengan kata lain, akhir itu sudah ada sejak permulaan. Kematian sudah menyongsong Dasein sejak keterlemparannya. Manusia adalah ada-menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Artinya, karena menyongsong sejak awal sampai akhir, kematian juga merentang dalam keseharian kita. Kematian selalu, dan tidak sekali saja, menghampiri dasein. Begitu juga dengan kelahiran. Keduanya adalah hal yang eksis dalam kehidupan manusia.
Ada suatu cara sederhana untuk melihat kerangka pendekatan Heidegger dalam memahami kematian: Ketika kematian bukan sesuatu yang bisa menjadi bagian dari pengalaman (melalui perjalanan hidup), tidak akan pernah ada yang bisa kita bicarakan mengenai kematian itu sendiri. Apa yang penting bukan kematian (death) itu sendiri tetapi perjalanan menuju kematian (dying), karena esensi dari keberadaan hidup manusia adalah perjalanan menuju kematian.
Kematian bukan [hanya] dalam pengertian sempit mengenai kematian fisik, melainkan kemungkinan untuk mati. Manusia pasti mati, tetapi tak tahu kapan dan bagaimana. Kecemasan akan kematian eksis dan suatu ketika menyembul dari arus keseharian. Kecemasan itu adalah kecemasan akan kemungkinannya sendiri. Namun sekali lagi, meski menyembul keluar, kematian tetap berada dalam genangan arus keseharian. Di sini akan muncul dua macam sikap terhadap kematian : sikap manusia yang inotentik, cenderung menenang-nenangkan diri dengan anggapan bahwa kematian pasti menimpa setiap orang; dan sikap dasein yang otentik membuka diri terhadap kemungkinan paling mungkin dari dirinya, yaitu kematiannya.
Manusia otentik sudah terbiasa dengan cemas dan kesendiriannya. Artinya, dalam keseharian pun ia tetap bening dengan diri. Antisipasi adalah ciri manusia atau Dasein karena ia adalah ketersingkapan itu sendiri. Karena menyingkapkan dirinya sendiri, dia terbuka terhadap sesuatu yang ada di depan. Dia selalu menyongsong ke depan, mendahului diri, dalam arti manusia itu selalu merupakan gerak, gerak menjadi (Werden), yaitu tidak pernah selesai untuk berkembang. Selalu berkembang sampai mati.
Suatu kesadaran bahwa manusia itu hidup menuju kematian dan keberadaan di dunia hanya persinggahan sementara. Ini adalah bentuk antisipasi (Vorlaufen) atas kematian. Mereka menganggap kematian inheren dalam kehidupan, dan oleh karena itu tak guna ditakutkan. Mereka melihat kematian sebagai bagian eksistensi.
Bandingkan dengan fenomen yang mirip dengan itu, yaitu orang yang karena ajaran-ajaran tertentu tidak lagi takut mati, malah membuat dirinya cepat mati, seperti penganut sekte penunggu kiamat atau pelaku bom bunuh diri. Dalam perspektif Heideggerian, itu termasuk modus kehidupan yang tidak otentik (Das Man). Orang-orang ini, melihat kematian selalu di depan mata, kemudian mereka juga ikut membunuh bersama yang lain. Tidak lagi cemas dengan kematian, tetapi juga tidak pernah sampai taraf di mana harus menghargai hidup. Hanya nafsu survival saja. Membunuh atau dibunuh.
Heidegger menekankan bagaimana kita menghargai hidup yang historis, tidak destruktif bagi sesama manusia, lingkungan alam, lingkungan benda-benda sekitar. Semua adalah relasi kehidupan bersama sebagai meng-‘Ada’ di dunia, dan tugas Dasein-lah untuk merawat eksistensi dunianya. Bagi Dasein, kesadaran akan kematian pada akhirnya merupakan kesadaran akan makna kehidupan.
Bukan kematian yang menjadi esensi untuk kita cemaskan tetapi keotentikan kita dalam menghadapi kematian itu. Keotentikan yang bisa kita peroleh dari kesadaran akan keberadaan kita dan tidak membiarkan kita larut dalam arus keseharian. Larut dalam dogma-dogma serta janji yang kita sendiri tidak pernah tahu esensinya bagi penghargaan akan kehidupan, atau larut dalam usaha untuk bertahan hidup tanpa pernah memaknakan apa sebenarnya arti hidup bagi kita. Dengan menyadari keotentikan kita, maka sebenarnya kita tidak akan pernah takut mengalami kematian itu sendiri. Kematian kitapun bukan sekedar kematian tanpa makna bagi kehidupan yang kita tinggalkan.
Daniel Adipranata
2007@Jakarta
Spirit Carries On’
Telaah Psikologi Kematian dalam Perspektif Heideggerian1
Oleh:
Audifax2
Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?
Petikan lirik lagu "Spirit Carries On" dari Dream Theatre ini menginspirasi penulis. Mengajak untuk mempertanyakan dari mana kita berasal, di mana kita saat ini, akan ke mana setelah mati. Apa yang kita tinggalkan sebelum mati dan adakah kepastian dalam kehidupan. Lagu itu makin menarik ketika penulis menghubungkan dengan berita mengenai sekte yang menunggu datangnya kematian, di Pondok Nabi, Bale Endah Bandung3 atau berbagai peristiwa bom bunuh diri bernuansa fanatisme agama.
I used to be frightened of dying
I used to think death was the end
But that was before
I'm not scared anymore
I know that my soul will transcend
Lagu itu mengalun lagi. Menggambarkan ketakutan yang menghinggapi seseorang ketika menghadapi kematian. Ketakutan yang hilang, ketika orang itu mengetahui bahwa jiwanya akan terangkat menuju suatu tempat.
Sejarah mencatat bahwa hampir semua orang menghadapi kematian dengan rasa takut
As previously noted, primitive man's reaction to death was one of fear. In this enlightened age, man still reacts to death with fear. Death is still an unknown. No one obviously, has ever died and returned to tell us what death is really like. Man naturally fears what he does not understand and can not control. The so-called "near-death" experience is still not a death experience. We can never know exactly what death is, so we can never fully understand it. Therefore we can never stop totally from fearing it.
Much of our response to death is avoidance. Death is not a pleasant topic of conversation. When death must be talked about, it is usually done in academic terms. Talking about death on a personal level creates discomfort. It is much easier to talk about death in terms of, "People die," rather than in terms of, "Someday I will die.".4
Semakin menarik, ketika penulis mencoba memikirkan apa yang ada di benak penganut sekte kematian tersebut. Mereka tampak begitu yakin dalam menghadapi kematian, tidak tergambar ketakutan. Bahkan memiliki keyakinan untuk masuk surga. Suatu kondisi yang setara dengan ketika Imam Samudra, Amrozy, pelaku bom bunuh diri di Turki, dan orang-orang yang meledakkan beberapa tempat dengan mengambil resiko untuk berhadapan dengan kematian.
Ontologi Kematian
Surga [dan neraka] adalah simbol arkais yang menggambarkan suatu "tanah terjanji" bagi orang-orang setelah melalui kematian. Secara hermeneutis, orang-orang Sekte pimpinan Mangapin Sibuea dan para pelaku-pelaku pengeboman, yang keduanya mengatasnamakan agama untuk tindakan yang dilakukan, mengharapkan tanah terjanji tersebut setelah kematian. Namun pertanyaan muncul, darimana mereka bisa begitu yakin bahwa mereka akan memasuki tanah terjanji ?
Kita mungkin tidak akan pernah mengerti mengapa mereka melakukan itu semua. Sebuah tindakan yang tidak akan pernah masuk dalam nalar logis. Namun sebenarnya bukan itu yang penting. Pemaknaan mengenai kematian justru menjadi hal yang menarik. Selama ini, sebagian dari kita menyadari kematian, tanpa memiliki konsep jelas dalam menyikapi. Yang ketakutan, bahkan memilih untuk tidak memikirkannya. Ini membuat seseorang menjalani kehidupan dengan hampa tanpa pernah mempertanyakan apa makna hidup, dari mana dia berasal, mengapa dia hidup dengan keberadaan sekarang, apa yang akan terjadi jika dia mati, dan apa makna kematian.
Hidup kita, layaknya melihat matahari terbit setiap hari dan tidak pernah mempersoalkan pemaknaannya dalam kehidupan kita. Kerapkali, kita menerima begitu saja apa yang kita lihat dan dikatakan orang. Edmund Husserl menyebut sikap taken for granted ini sebagai natürliche Einstellung (Sikap alamiah), yaitu kepercayaan naif bahwa dunia luar itu ada begitu saja.
William Dilthey menjelaskan bahwa hidup penuh dengan makna5. Bila kita mencoba menjelaskan tentang alam dan kematian, saat itu pula kita memahami kehidupan batin. Apa yang kita pahami mengenai alam dan kematian bukan merupakan pemahaman sebenarnya, karena alam bukan buatan manusia. Pemahaman mengenai alam adalah suatu peng’alam’an peristiwa. Menjadikan sesuatu yang sebelumnya eksternal menjadi internal, menyatu dengan batin.
Dilthey membuat perbedaan penting antara dua buah kata dalam bahasa Jerman yang sama-sama dapat diterjemahkan sebagai "pengalaman", yaitu erfahrung dan erlebnis. Kata erfahrung biasanya diartikan sebagai "pengalaman" seperti pemahaman kita pada umumnya. Sedangkan erlebnis adalah kata turunan yang berasal dari kata kerja erleben yang berarti "mengalami". Erfahrung adalah term umum, sedangkan erlebnis adalah term khusus yang dipergunakan untuk mengkonotasikan pengalaman batin atau "pengalaman yang hidup"6.
Berkaitan dengan psikologi, kita melihat bahwa tidak semua pengalaman dapat disebut dengan erlebnis atau pengalaman yang hidup. Bisa jadi, seseorang menjalani kehidupan tanpa memiliki pengalaman yang hidup selain pengalaman-pengalaman yang menjenuhkan dan tidak bermakna apa-apa (erfahrung).
Semboyan Husserl, Zurück zu den Sachen selbst (kembalilah ke hal-hal itu sendiri) dapat kita mengerti sebagai upaya untuk mendekati fenomena kehidupan semurni mungkin dan dunia-kehidupan seotentik mungkin. Fenomena kematian, dalam perkembangannya tidak pernah tampak apa adanya karena sudah ditafsirkan oleh para "ahli", misalnya diteropong sebagai bentuk fundamentalisme, liberalisme, humanisme, dan isme-isme lainnya. Tetapi apakah fenomena kematian itu pada dirinya?
Episteme Kematian
Fenomena kematian adalah suatu pintu menuju fenomena lain. Untuk membiarkan kematian "menampakkan diri" pada dirinya sendiri, kita tidak bisa menafsirkan penafsiran-penafsiran siapapun begitu saja, melainkan membuka diri, yaitu membiarkan kematian terlihat. Langkah tepat untuk memahami kematian adalah membuka diri, bukan sekedar menganalisis. Bayangkanlah kita sebagai orang yang melihat pertama kali fenomena kematian, pertama-tama akan heran, mengapa ada kematian? Keheranan yang akan menempatkan kita sebagai ‘pemula’ dalam melihat kematian. Seperti tergambar dalam lanjutan lirik lagu Spirit Carries On berikut :
I may never find all the answers
I may never understand why
I may never prove
What I know to be true
But I know that I still have to try
Safe in the light that surrounds me
Free of the fear and the pain
My questioning mind
Has helped me to find
The meaning in my life again
Ya…kita mungkin tidak pernah memperoleh jawaban atau pemahaman eksak mengenai ontologi kematian. Tetapi, pencarian jawaban itulah yang membawa kita pada pemaknaan hidup, ketimbang membiarkan kematian dan taken-for granted terhadap semua pemahaman mengenai kematian.
The being that exists is man. Man alone exists. Rocks are, but they do not exist. Trees are, but they do not exist. Horses are, but they do not exist. Angels are, but they do not exist. God is, but he does not exist. The proposition "man alone exists" does not mean by any means that man alone is7
Satu-satunya Being atau ‘Ada’ adalah manusia. Dengan mempertanyakan kembali ‘Ada’ kita dalam kehidupan, maka kita tidak sekedar menjalankan hidup. Tidak seperti ‘Ada’ dari orangutan atau mobil yang tergeletak di garasi, yang tidak pernah mempertanyakan ‘ada’-nya. Orangutan ada begitu saja dan mungkin tidak pernah mengambil jarak terhadap ‘Ada’-nya, maka dia tidak pernah menanyakan ‘Ada’-nya. Yang bisa melakukan itu adalah Dasein8 .
Dasein adalah kata Jerman yang berarti ‘Ada-di-sana’ Ada di mana? ‘Di-sana’ !. di dalam dunia begitu saja, tanpa tahu dari mana dan mau ke mana. Seperti yang dipertanyakan dalam lirik lagu Spirit Carries On. Itulah yang disebut faktisitas (Faktizität), yaitu kenyataan bahwa kita ada di dunia ini bersifat niscaya. Kita tak pernah ditanya lebih dahulu mau atau tidak hidup di dunia ini. Kita ‘ada-begitu-saja’, kita ‘di-sana’, di dalam dunia. Heidegger menyebut ini sebagai ‘keterlemparan’ (Geworfenheit). Dasein terlempar ke dunia ini9.
Dasein adalah keber-ada-an manusia, tidak seperti entitas lain. Dasein bukan suatu [kata]‘benda’. Ada dua ciri yang mengkarakterisasi Dasein : 1) Dasein memiliki suatu pemahaman mengenai dirinya sendiri, dan 2) Dasein, adalah Keber’ada’an, suatu ada- dalam- dunia atau ‘ada-sebagai-suatu-ada’.10
Dasein adalah term yang menggambarkan keberadaaan alami manusia dan relasi esensial manusia pada keterbukaan akan ‘Ada’-nya. Term ini juga berkembang, kendati dalam pemikiran metafisik kerap dipertukarkan dengan eksistensi, aktualitas, realitas, dan objektivitas, dan meski dalam metafisik penggunaan istilah ini lebih jauh didukung oleh ekspresi yang umum (dalam bahasa Jerman) : "menschliches Dasein."11
Kita ‘ada-begitu-saja’, terlempar. Yang membedakan Dasein dari mengada-mengada lain, adalah bahwa Dasein menyadari keterlemparan ini, lalu berupaya memahaminya. Agama—meskipun secara holistis dan mendalam—hanyalah salah satu cara memahami keterlemparan, tetapi faktisitas tetap, yaitu bahwa kita ‘ada-begitu-saja’. Mengada-mengada yang lain juga ‘ada-begitu-saja’, tetapi tidak mempersoalkan fakta tentang ‘ada-begitu-saja’ ini. Karena tidak mempunyai akses ke ada mereka. Mengada-mengada yang lain itu seolah tertutup pada dirinya sendiri. Dasein bisa menanyakan ‘Ada’ karena memiliki hubungan dengan ‘Ada-nya, yakni terbuka terhadap ‘Ada’-nya. Hubungan dengan ‘Ada’-nya ini disebut eksistensi (Existenz)12.
Keterlemparan ini, juga terjadi ketika menghadapi kematian. Ketika, kita tak pernah ‘menjadwalkan’ kapan kita lahir, maka kitapun tak pernah mengetahui kapan kita mati. Namun kebermaknaan hidup justru diperoleh di situ. Dalam ketidakpastian masa depan. Dengan ketidakpastian orang masih memiliki harapan. Harapan berarti terbukanya kemungkinan. Adanya kemungkinan membuat orang termotivasi untuk hidup. Di situlah orang dapat menatap ke depan dan terus memperbaiki diri sepanjang hidupnya. Kita terus meng-‘ada’ sepanjang kita hidup. Dasein memiliki peluang untuk terus memaknakan perjalanan kehidupan menuju kematian yang tidak dapat dipastikan kedatangannya.
‘Ada’ Dasein adalah suatu ‘menjadi’ karena terus menerus mengada dan belum ada secara penuh. Dalam arti inilah Heidegger lalu menyebut bahwa Dasein adalah kemungkinan itu sendiri (Seinkönnen). ‘Ada’ Dasein tak lain daripada sesuatu yang ia tentukan sendiri13.
Menyembul dan membenamkan diri dalam keseharian, menemukan ‘Ada’-nya dan raib di tengah anonimitas keseharian, itulah dinamika kehidupan Dasein sebagai ‘Ada-di-dalam-dunia’. Dalam peristiwa kehidupan manusia, selalu ada alunan rutinitas yang menghanyutkan; seperti ketika kita bangun tidur, makan pagi, berangkat kerja; makan siang, pulang kerja, makan malam, tidur. Tetapi ada kala di tengah arus rutinitas tersebut, kita seolah terhempas ke dalam diri kita sendiri; ketika kita tercenung cemas memikirkan hubungan cinta yang kandas karena perbedaan agama. Kekecewaan, cinta, pedih, dan ketakutan seolah membendung arus rutinitas. Demikian juga ketika seseorang mengalami kecemasan, karena situasi tertentu memaksanya sadar bahwa dirinya berhadapan dengan kematian. Di saat-saat itulah kita menyembul dari arus sungai rutinitas keseharian yang menghanyutkan kehidupan.
Baik menyembul maupun terbenam, tetap terjadi dalam arus sungai kehidupan keseharian. Dasein tak pernah keluar sepenuhnya dari keseharian. Dasein juga tidak berasal dari sesuatu yang di atas keseharian, melainkan senantiasa berada dalam derasnya arus keseharian. Bila kita amati, muncul skema berikut : manusia terlempar ke dunia ini, timbul dan terbenam dalam keseharian, dan akhirnya mati.
Being and Death
...Dasein constantly _is its not-yet as long as it is, it also already _is its end. The ending we have in view when we speak of death does not signify a being-at-an-end of Dasein, but rather a being toward the end of this being. Death is a way to be that Dasein takes over as soon as it is.14
Kematian adalah hal penting untuk kehidupan, dan merenungkan kematian tak lain daripada merenungkan kehidupan itu sendiri. Kematian adalah hal arkais dalam diri manusia, suatu fundamen dan totalitas terhadap ‘Ada’-nya di dunia ini, yang mencakup rentang sejak keterlemparan sampai kematiannya. Dasein menemukan otentisitasnya jika membuka diri terhadap ‘Ada’-nya dengan menghadapi kemungkinan kematiannya secara mendalam. Dasein menjadi inotentik ketika membiarkan dirinya larut dalam arus keseharian.
‘Ada’ manusia adalah suatu palung tanpa dasar, suatu Nicht (ketiadaan). Maksudnya, ‘Ada’ manusia secara dasariah adalah ‘ketiadaan-diri-sendiri’ (eine Nichtigkeit seiner Selbst). Keterlemparan dasein itulah yang menunjukkan bahwa ‘Ada’ Dasein adalah suatu ketiadaan, karena Dasein tak berasal dari suatu yang diketahui dan menuju ke tujuan yang tak satupun ditetapkan sebelumnya15.
Tetapi, ketidaktahuan atau ketiadaan kepastian itulah yang menentukan ‘Ada’-nya, maka lompatan ke dalam hal tersebut menimbulkan kecemasan. Suatu kecemasan yang dapat menjadi mediasi untuk kontak dengan ‘Ada’ yang menjadi sumber nilai-nilai, karena dalam kecemasan itu Dasein bergerak melalui lorong pemahaman akan pencapaian kemungkinan-kemungkinan16.
Dasein mencapai totalitas ‘Ada’-nya dalam kematian (Tod). Kematian adalah zenit totalitas ‘Ada’ dasein, tetapi persis pada titik itu pula Dasein kehilangan ‘Ada’-nya—suatu nadir ontologis, karena Dasein berhenti sebagai Ada-di-dalam-dunia. Namun ada suatu ruang terhormat bagi dasein yang terhenti itu. Manusia yang mati ‘lebih’ daripada seonggok daging, dan menjadi almarhum yang bermartabat. Kontak dengan ‘Ada’nya tidak berhenti. Bukan keabadian jiwa dalam pemahaman agama yang diacu di sini, melainkan pengalaman akan dunia-bersama yang masih membekas pada mereka yang ditinggalkan. Hubungan dengan yang mati seolah masih ‘bermukim’ di dalam dunia-bersama itu, sehingga yang mati ‘lebih’ daripada sekedar jenasah. Ciri ‘lebih’ itu, katakanlah semacam sedimentasi memori hasil kebiasaan kontak makna dengannya selama ini17.
There is an important relationship between freedom and responsibility, between possibility and the integrity of one's own being, which becomes clear in Heidegger's discussion of the mood anxiety. In anxiety Dasein becomes aware of its facticity (that it is mortal) and its thrownness (that death is inevitable), for when Dasein reflects on what bothers it in anxiety the answer is "nothing". Existentially this "nothing" or "no-thingness" is the possibility of Dasein no longer having any possibilities. Anxiety individualizes, that is Dasein becomes aware of the fact that death is non-relational or that death, one's ownmost possibility, can not be shared. In realizing this possibility Dasein is called back from falling into the world of the "they" and is now freed to choose between authenticity and inauthenticity, interpreting itself in terms of its ownmost Self or interpreting itself in terms of its "they" self.18
Tak seorang pun dapat menjemput kematian untuk orang lain. Meski orang bisa mati demi ideologi tertentu seperti teroris yang melakukan bom bunuh diri sekte yang percaya bahwa di satu waktu dan tempat tertentu mereka akan bersama-sama naik ke surga; tetapi kematian adalah tetap kematian bagi dirinya sendiri, bukan mewakili kematian orang lain. Maka itu, kematian adalah momen paling otentik dan eksistensial bagi dasein.
Akhir yang dimaksud dengan kematian, bukanlah berakhirnya dasein, melainkan suatu Ada-menuju-akhir. Dengan kata lain, akhir itu sudah ada sejak permulaan. Kematian sudah menyongsong Dasein sejak keterlemparannya. Manusia adalah ada-menuju-kematian (Sein-zum-Tode). Artinya, karena menyongsong sejak awal sampai akhir, kematian juga merentang dalam keseharian kita. Kematian selalu, dan tidak sekali saja, menghampiri dasein. Begitu juga dengan kelahiran. Keduanya adalah hal yang eksis dalam kehidupan manusia.
Ada suatu cara sederhana untuk melihat kerangka pendekatan Heidegger dalam memahami kematian: Ketika kematian bukan sesuatu yang bisa menjadi bagian dari pengalaman (melalui perjalanan hidup), tidak akan pernah ada yang bisa kita bicarakan mengenai kematian itu sendiri. Apa yang penting bukan kematian (death) itu sendiri tetapi perjalanan menuju kematian (dying), karena esensi dari keberadaan hidup manusia adalah perjalanan menuju kematian19.
Kematian bukan [hanya] dalam pengertian sempit mengenai kematian fisik, melainkan kemungkinan untuk mati. Manusia pasti mati, tetapi tak tahu kapan dan bagaimana. Kecemasan akan kematian eksis dan suatu ketika menyembul dari arus keseharian. Kecemasan itu adalah kecemasan akan kemungkinannya sendiri. Namun sekali lagi, meski menyembul keluar, kematian tetap berada dalam genangan arus keseharian. Di sini akan muncul dua macam sikap terhadap kematian : sikap manusia yang inotentik, cenderung menenang-nenangkan diri dengan anggapan bahwa kematian pasti menimpa setiap orang; dan sikap dasein yang otentik membuka diri terhadap kemungkinan paling mungkin dari dirinya, yaitu kematiannya.
Manusia otentik sudah terbiasa dengan cemas dan kesendiriannya. Artinya, dalam keseharian pun ia tetap bening dengan diri20. Antisipasi adalah ciri manusia atau Dasein karena ia adalah ketersingkapan itu sendiri. Karena menyingkapkan dirinya sendiri, dia terbuka terhadap sesuatu yang ada di depan. Dia selalu menyongsong ke depan, mendahului diri, dalam arti manusia itu selalu merupakan gerak, gerak menjadi (Werden), yaitu tidak pernah selesai untuk berkembang. Selalu berkembang sampai mati21.
Dalam kejawen, kita mengenal pengertian umum yang serupa dengan apa yang dimaksud oleh Heidegger sebagai membuka diri terhadap kematian, yang diistilahkan dengan Sangkan Paraning Dumadi (Totalitas asal dan tujuan manusia: bahwa keberadaan manusia di dunia hanya seperti orang mampir minum di warung). Suatu kesadaran bahwa manusia itu hidup menuju kematian dan keberadaan di dunia hanya persinggahan sementara. Ini adalah bentuk antisipasi (Vorlaufen) atas kematian. Mereka menganggap kematian inheren dalam kehidupan, dan oleh karena itu tak guna ditakutkan. Mereka melihat kematian sebagai bagian eksistensi.
Bandingkan dengan fenomen yang mirip dengan itu, yaitu orang yang karena ajaran-ajaran tertentu tidak lagi takut mati, malah membuat dirinya cepat mati, seperti penganut sekte penunggu kiamat atau pelaku bom bunuh diri. Dalam perspektif Heideggerian, itu termasuk modus kehidupan yang tidak otentik (Das Man). Orang-orang ini, melihat kematian selalu di depan mata, kemudian mereka juga ikut membunuh bersama yang lain. Tidak lagi cemas dengan kematian, tetapi juga tidak pernah sampai taraf di mana harus menghargai hidup. Hanya nafsu survival saja. Membunuh atau dibunuh.
Heidegger menekankan bagaimana kita menghargai hidup yang historis, tidak destruktif bagi sesama manusia, lingkungan alam, lingkungan benda-benda sekitar. Semua adalah relasi kehidupan bersama sebagai meng-‘Ada’ di dunia, dan tugas Dasein-lah untuk merawat eksistensi dunianya. Bagi Dasein, kesadaran akan kematian pada akhirnya merupakan kesadaran akan makna kehidupan.
Bukan kematian yang menjadi esensi untuk kita cemaskan tetapi keotentikan kita dalam menghadapi kematian itu. Keotentikan yang bisa kita peroleh dari kesadaran akan keberadaan kita dan tidak membiarkan kita larut dalam arus keseharian. Larut dalam dogma-dogma serta janji yang kita sendiri tidak pernah tahu esensinya bagi penghargaan akan kehidupan, atau larut dalam usaha untuk bertahan hidup tanpa pernah memaknakan apa sebenarnya arti hidup bagi kita. Dengan menyadari keotentikan kita, maka sebenarnya kita tidak akan pernah takut mengalami kematian itu sendiri. Kematian kitapun bukan sekedar kematian tanpa makna bagi kehidupan yang kita tinggalkan.
If I die tomorrow
I'd be allright
Because I believe
That after we're gone
The spirit carries on
© Audifax - 25 Februari 2005
CATATAN-CATATAN:
1 Makalah ini dipresentasikan pada diskusi mengenai Decision Making di Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA) pada tanggal 25 Pebruari 2005
2 Peneliti; Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA) - Surabaya
3 Lihat berita di Kompas; Selasa, 11 November 2003; Menunggu Kiamat, 283 Jemaat Sekte Dievakuasi; http://www.kompas.com/kompas-cetak/0311/11/utama/679715.htm
4 Anonim, Psychology of Death (2000); online documents : _______________
5 Dilthey membedakan Naturwissenschaften (ilmu alam) dan Geisteswissenschaften (ilmu batin).
6 E. Sumaryono; (1999); Hermeneutik – Sebuah Metode Filsafat; Yogyakarta : Kanisius; hal. 51
7 Martin Heidegger (1949); Existence and Being; online documents : http://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/works/ge/heidegg2.htm
8 Inilah nama bagi manusia. Heidegger tak pernah menyebut ‘manusia’ dalam bukunya, karena istilah ini bisa bermakna kerumunan spesies. Kata ‘manusia’ adalah abstraksi dari yang konkret seperti : Novi, Tjok, Vini, Diaz dan seterusnya, sehingga seolah mencabut manusia dari kekonkretannya. Dalam situasi konkret, tak seorangpun suka jika hanya disebut manusia.
9 F. Budi Hardiman; (2003); Heidegger dan Mistik Keseharian – Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit; Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia; hal. 47 - 48
10 Jeffrey Compton; On the Structure of Human Existence: A brief ontological description of the human kind of being from an existential-phenomenological perspective; online documents : http://home.earthlink.net/~rationalmystic/humanstr.htm
11 Heidegger (1949); op.cit
12 Hardiman; (2003); op.cit; hal 49.
13 Ibid; hal 50
14 Martin Heidegger; (1962); Being and Time; Diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh : John Macquarrie dan Edward Robinson; New York : Harper & Row; hal 158
15 Hardiman; (2003); op cit; hal 79.
16 Tak ada ‘iman’ di sini, namun kecemasan itu sendiri lebih otentik daripada ‘iman’ yang memberi jaminan kepastian dan dapat menjinakkan kecemasan. Manusia otentik tidak lari dari kecemasannya ke dalam ‘iman’, karena justru dengan bermukim dalam kecemasan, manusia memperoleh akses ke dalam ‘Ada’nya.
17 Hardiman; (2003); op cit; hal 88 - 89
18 Compton, op.cit
19 Anonim; HEIDEGGER ON DEATH, online documents : http://www.gis.net/~tbirch/heidweb.txt
20 Hardiman; op.cit; hal 158
21 Ibid; hal 160
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, HEIDEGGER ON DEATH, online documents : http://www.gis.net/~tbirch/heidweb.txt
Anonim; Psychology of Death (2000); online documents : _______________
Compton, Jeffrey; On the Structure of Human Existence: A brief ontological description of the human kind of being from an existential-phenomenological perspective; online documents : http://home.earthlink.net/~rationalmystic/humanstr.htm
Hardiman, F. Budi; (2003); Heidegger dan Mistik Keseharian – Suatu Pengantar Menuju Sein und Zeit; Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia
Heidegger, Martin (1949); Existence and Being; online documents : http://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/works/ge/heidegg2.htm
Heidegger, Martin; (1962); Being and Time; Diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh : John Macquarrie dan Edward Robinson; New York : Harper & Row
Kompas; Selasa, 11 November 2003; Menunggu Kiamat, 283 Jemaat Sekte Dievakuasi; http://www.kompas.com/kompas-cetak/0311/11/utama/679715.htm
Sumaryono, E; (1999); Hermeneutik – Sebuah Metode Filsafat; Yogyakarta : Kanisius
